Menjaring Calon Ketua PC NU Gresik, Ngurusi NU Bukan Nguresi dan Nunut Urip

Tulisan Lepas: AH Yani Elbanis*

Opini (wartanu.online) -- Memilih pemimpin di NU tidak seperti perhelatan Pilkada atau suksesi ormas lain. Karena NU didirikan oleh ulama dan kyai melalui proses sangat panjang, bahkan dengan riyadhoh dan tirakat. Maka menjelang Pemilihan Ketua PC NU Gresik pada bulan Nopember mendatang, saya teringat pesan Romo KH Robbach Ma'shum, "Luwih gampang dadi Bupati ketimbang dadi Ketua NU".


Kalimat beliau berdasarkan dari pengalamannya saat menjadi Ketua PC NU juga Bupati Gresik dua periode (2000-2010), ini sangat penuh makna yang patut kita jadikan pelajaran dan pijakan dalam menjaring memilih pilah pilih figur atau Calon Ketua PC NU Gresik. 

Memang tidak mudah tapi harus dipikirkan bersama untuk mencari calon yang bisa "Ngurusi NU" bukan "Nguresi NU" apalagi "Nunut Urip" di NU. 

Maka NU dengan khittah 1926 perlu dijaga dan dilestarikan lanjutkan dari apa yang sudah diperjuangkan pendiri NU Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy'ari, beliau mendo'akan tidak hanya kepada generasi awal NU tapi generasi berikutnya hingga akhir zaman. 

"Sopo kang gelem ngurusi NU, tak anggep santriku. Sopo kang dadi santriku, tak dongakno khusnul khotimah sak dzurriyahe"

Kalimat tersebut sudah tidak asing bagi warga Nahdliyin, ini wasiat beliau yang disampaikan tulis dari generasi ke generasi di kalangan warga Nahdliyin. Kalimat ini seringkali disampaikan dalam acara pelantikan pengurus NU di berbagai level, baik dalam acara pelatihan seperti PKPNU, MKNU, PKD Ansor atau Lakmud IPNU. Kita juga bisa menemui kalimat ini pada postingan akun – akun media sosial yang berafiliasi dengan NU.

Hanya saja, sesuatu yang luar biasa jika disampaikan atau dilakukan secara berulang dan terus menerus, akan menjadi sesuatu yang biasa saja. Begitu pula wasiat dari Hadratussyaikh ini, semakin sering warga NU mendengar wasiat ini malah mengurangi nilai yang ada dibalik wasiat beliau.

Namun sangat jarang ditemui pembahasan khusus, mengenai makna dan maksud dari wasiat Hadratussyaikh ini. Seolah kita semua menerimanya sebagai suatu hal yang taken for granted, menerima begitu saja tanpa perlu melakukan konseptualisasi dan interpretasi lebih lanjut.

“Sopo kang gelem ngurusi NU”, sepenggal kalimat ini jika ditanyakan kepada warga NU pasti akan memunculkan beragam penafsiran. “Ngurusi NU”, adalah sebuah kata kerja yang maksud dan maknanya tidak bisa kita tanyakan kepada penutur asalnya yaitu Hadratussyaikh.

Karena banyak yang mengaku merasa ngurusi NU tapi kenyataan hanya Nguresi NU untuk kepentingan tertentu, padahal ini sangat bisa menjadi parasit dan penyakit bagi NU kalau dibiarkan. 

Artinya kalau ngurusi NU sesuai khittah NU--jangan dibuat mainan apalagi menjadikan tameng dalam mencapai tujuan tertentu---lebih lebih untuk kepentingan politik---jangan sampai terjadi.

Pesan dhawuh K.H. Sahal Mahfudz “Neng NU iku urip-urip NU, ojo pisan-pisan golek urip neng NU”. 

Dalam mengurusi NU perlu kita mencontoh KH Wahab Chasbullah inisiator berdirinya NU, beliau rela berkorban tidak hanya jiwa dan raganya, tetapi untuk membesarkan NU beliau bahkan rela menjual sebidang tanah-tanahnya juga apa saja yang dimilikinya untuk kepentingan besarkan organisasi NU.

Pengorbanan untuk NU yang beliau lakukan, tentu mengajarkan mengurusi NU butuh figur punya hati ikhlas dan rela berkorban, untuk besarkan NU bukan mengorbankan NU demi sesuatu kepentingan tertentu yang sifatnya materialistik dan pragmatis. 

Wallahu 'A'lam bi as-Showab

*Pemerhati ke-NU-an, Jurnalis Gresik, pengurus Ta'lif wa Nasyr PCNU Gresik saat kepemimpinan Dr KH Husnul Huluq, pernah aktif di PW Ansor Jawa Timur, juga PMII Surabaya, saat ini menjadi Ketua Setya Kita Pancasila (SKP) Jawa Timur. 

wartanu.online
wartanu.online wartanu.online
close